Dengan menulis kita bisa menuangkan imajinasi, menjalajahi dunia penuh fantasi, dan menemukan berbagai inovasi
Senin, 20 Januari 2014
Berbisnis Dengan Thomas A. Edison
Ketika Edwin C. Barnes turun dari kereta barang di West Orange, New Jersey, penampilannya mungkin seperti gelandangan, tetapi pemikirannya adalah pemikiran seorang raja.
Saat dia berjalan menyusuri jalur kereta api menuju kantor Thomas A. Edison, pikirannya sibuk bekerja. Dia melihat dirinya berdiri dihadapan Edison. Dia mendengar dirinya meminta kepada Edison sebuah sebuah kesempatan untuk mewujudkan obsesi terbesar dalam hidupnya -sebuah obsesi membara untuk menjadi rekan bisnis sang penemu besar-.
Keinginan Barnes bukanlah harapan, bukan pula anganan. Keinginan Barnes adalah sebuah keinginan yang berdenyut-denyut, yang melebihi segalanya. Keinginan itu pasti.
Beberapa tahun kemudian, Barnes kembali berdiri dihadapan Edison, di kantor sang penemu. Kali ini keinginannya telah menjadi kenyataan. Dia sedang berbisnis dengan Edison. Mimpi yang telah mendominasi kehidupannya telah menjadi kenyataan.
Barnes sukses karena dia memilih sebuah tujuan yang pasti, menempatkan seluruh energinya, seluruh keteguhannya, seluruh upayanya -dia mencurahkan segala hal yang dimilikinya untuk meraih tujuan itu-.
Lima tahun berlalu kesempatan yang dia cari muncul. Bagi semua orang, kecuali dirinya, dia adlah slah satu dari roda gigi bisnis Edison. Tetapi dalam benak Barnes sendiri, dia senantiasa menjadi mitra Edison sejak dia pertama kali kerja di sana.
Ketika dia datang ke West Orange dia tidak berkata kepada dirinya, "Saya akan berusaha membujuk Edison untuk memberi saya pekerjaan". Tetapi dia berkata, "Saya akan menemui Edison, dan membuatnya melihat bahwa saya datang untuk berbisnis dengannya".
Dia tidak beerkata, "Saya akan membuka mata untuk kesempatan yang lain, sekiranya saya gagal meraih apa yang saya inginkan dalam perusahaan Edison". Dia beerkata, "Hanya ada satu hal di dunia ini yang harus saya capai, dan itu adaalah menjadi rekan bisnis Thomas A. Edison. Saya akan membuang segala perasaan ingin mundur dan mempetaruhkan seluruh masa depan saya untuk mendapatkan apa yang saya inginkan".
Dia tidak membiarkan dirinya mundur lagi. Dia harus menang atau mati!
Demikianlah kisah kesuksesan Barnes, yang diambil dari buku Napoleon Hill, Think And Grow Rich.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar